Premanisme Merajalela, Aparat Desa Dinilai Tidak Kerja.
TELAGASARI, DIZTV -Kenakalan remaja merupakan gejala umum, khususnya terjadi di kota-kota besar yang kehidupannya diwarnai dengan adanya persaingan-persaingan dalam memenuhi kebutuhan hidup, baik yang dilakukan secara sehat maupun secara tidak sehat.
Persaingan-persaingan tersebut terjadi dalam segala aspek kehidupan khususnya kesempatan memperoleh pendidikan dan pekerjaan. Betapa kompleksnya kehidupan tersebut memungkinkan terjadinya kenakalan remaja.
Seoperti yang diungkpkan ketua BPD Desa Pasirmukti, Kecamatan Telagasari Ono Kepada DIZTV jumat (24/8), menurutnya, penyebab kenakalan remaja sangatlah kompleks, baik yang berasal dari dalam diri remaja tersebut, maupun penyebab yang berasal dari lingkungan, lebih-lebih dalam era globalisasi ini pengaruh lingkungan akan lebih terasa. Pemahaman terhadap penyebab kenakalan remaja mempermudah upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mengatasinya. Upaya-upaya tersebut dapat bersifat preventif, represif, dan kuratif.
"Tanggung jawab terhadap kenakalan remaja terletak pada orangtua, sekolah, dan masyarakat, khususnya para pendidik baik yang ada di keluarga (orangtua,red), sekolah (guru-guru dan para guru pembimbing,red) maupun para pendidik di masyarakat, yakni para pemuka agama dan tokoh-tokoh masyarakat,"kata Ono.
Seperti halnya, Sambun dia, untuk dikarawang sendiri, kenakalan remaja sering berujung pada aksi anarkis, seperti tawuran, membolos bahkan berlaku keriminalitas. peno mena kenakalan remaja ini, merupakan salah satu permasalahan yang kompelks ,memerlukan perhatian ekstra dari semua elemen, termasuk pemerintah.
Aksi kenakalan remaja bukan hanya dilakukan dijalanan saja. tetapi kini sudah mulai merambah kepada premanisme, yang sringkali meminta jatah kepada warga yang kerap merayakan hajatan. tidak tanggung-tanggung, sambung dia, para remaja tersebut kerap meminta uang dengan jumlah besar yaitu sekitar jutaan rumpiah.
"Dari dahulu banyak remaja yang sering kali meminta jatah pada pengantin yang mengelar hajatan. yang saya heran, disitukan ada uang Rekes, atau uang keamanan kepada aparat desa dan Bimas. tetapi masih ada saja aksi peremanisme yang terjadi, lantas keamanan itu kemana, apakah hanya uang saja yang diminta,"ucap Ono.
Menurutnya, jangan sampai aksi premanisme, dengan mengatasnaakan keamanan terus terjadi menimpa dikalangan masyarakat yang akan melakukan resepsi pernikahan atau hajata.
"Seharusnya ketika kita menerima uang rekes, maka secara tidak langsung kita sudah siap meberikan rasa keamanan dan kenyamanan pada warga kita yang akan mekukan hajatan. dan kalo bisa permasalahan ini bisa dibahas dalam rapat minggon kecamatan, karena permasalahan ini cukup kompleks,"ajak Ono.
Sementara itu, hampir semua masyarakat karawang khusunya telagasari, mebenarkan permasalahan selalu adanya uang keamanan yang dipinta oleh para remaja setempat dengan mematok harga hingga jutaan rupiah.
"permasalahan seperti itu sudah lama terjadi, bahkan sudah seperti membudaya, mangkanya kalo saat ini, kita mau hajatan suka was-was. karena harus bayar dobel yaitu bayar kedesa dan ke preman tersebut,"jelas Didin salah seorang warga desa kalibuaya, kecamatan telagasari.
Menurutnya, kalau bisa aksi premanisme tersebut bisa dihalau oleh pemerintah desa dan aparat kepolsian. pasalnya hal tersebut sudah menjadi tugas dari aparat desa dan aparat kepolisian atau Binmas tingkat koramil. apalagi, sambung dia, warga yang akan hajatan itu sudah bayar kepada aparat desa dengan mahal.
"ya kita bayar kedesa saja untuk Rekes sekitar Rp800.000. tapi kadang pemerintah desa seperti diam saja, pada saat adanya aksi pemintaan uang yang dilakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab,"Pungkasnya.(izr)
Persaingan-persaingan tersebut terjadi dalam segala aspek kehidupan khususnya kesempatan memperoleh pendidikan dan pekerjaan. Betapa kompleksnya kehidupan tersebut memungkinkan terjadinya kenakalan remaja.
Seoperti yang diungkpkan ketua BPD Desa Pasirmukti, Kecamatan Telagasari Ono Kepada DIZTV jumat (24/8), menurutnya, penyebab kenakalan remaja sangatlah kompleks, baik yang berasal dari dalam diri remaja tersebut, maupun penyebab yang berasal dari lingkungan, lebih-lebih dalam era globalisasi ini pengaruh lingkungan akan lebih terasa. Pemahaman terhadap penyebab kenakalan remaja mempermudah upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mengatasinya. Upaya-upaya tersebut dapat bersifat preventif, represif, dan kuratif.
"Tanggung jawab terhadap kenakalan remaja terletak pada orangtua, sekolah, dan masyarakat, khususnya para pendidik baik yang ada di keluarga (orangtua,red), sekolah (guru-guru dan para guru pembimbing,red) maupun para pendidik di masyarakat, yakni para pemuka agama dan tokoh-tokoh masyarakat,"kata Ono.
Seperti halnya, Sambun dia, untuk dikarawang sendiri, kenakalan remaja sering berujung pada aksi anarkis, seperti tawuran, membolos bahkan berlaku keriminalitas. peno mena kenakalan remaja ini, merupakan salah satu permasalahan yang kompelks ,memerlukan perhatian ekstra dari semua elemen, termasuk pemerintah.
Aksi kenakalan remaja bukan hanya dilakukan dijalanan saja. tetapi kini sudah mulai merambah kepada premanisme, yang sringkali meminta jatah kepada warga yang kerap merayakan hajatan. tidak tanggung-tanggung, sambung dia, para remaja tersebut kerap meminta uang dengan jumlah besar yaitu sekitar jutaan rumpiah.
"Dari dahulu banyak remaja yang sering kali meminta jatah pada pengantin yang mengelar hajatan. yang saya heran, disitukan ada uang Rekes, atau uang keamanan kepada aparat desa dan Bimas. tetapi masih ada saja aksi peremanisme yang terjadi, lantas keamanan itu kemana, apakah hanya uang saja yang diminta,"ucap Ono.
Menurutnya, jangan sampai aksi premanisme, dengan mengatasnaakan keamanan terus terjadi menimpa dikalangan masyarakat yang akan melakukan resepsi pernikahan atau hajata.
"Seharusnya ketika kita menerima uang rekes, maka secara tidak langsung kita sudah siap meberikan rasa keamanan dan kenyamanan pada warga kita yang akan mekukan hajatan. dan kalo bisa permasalahan ini bisa dibahas dalam rapat minggon kecamatan, karena permasalahan ini cukup kompleks,"ajak Ono.
Sementara itu, hampir semua masyarakat karawang khusunya telagasari, mebenarkan permasalahan selalu adanya uang keamanan yang dipinta oleh para remaja setempat dengan mematok harga hingga jutaan rupiah.
"permasalahan seperti itu sudah lama terjadi, bahkan sudah seperti membudaya, mangkanya kalo saat ini, kita mau hajatan suka was-was. karena harus bayar dobel yaitu bayar kedesa dan ke preman tersebut,"jelas Didin salah seorang warga desa kalibuaya, kecamatan telagasari.
Menurutnya, kalau bisa aksi premanisme tersebut bisa dihalau oleh pemerintah desa dan aparat kepolsian. pasalnya hal tersebut sudah menjadi tugas dari aparat desa dan aparat kepolisian atau Binmas tingkat koramil. apalagi, sambung dia, warga yang akan hajatan itu sudah bayar kepada aparat desa dengan mahal.
"ya kita bayar kedesa saja untuk Rekes sekitar Rp800.000. tapi kadang pemerintah desa seperti diam saja, pada saat adanya aksi pemintaan uang yang dilakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab,"Pungkasnya.(izr)

Post a Comment