Header Ads

test

Rumah Sejarah Dipadati Pengunjung

RENGASDENGKLOK, DIZTV - Pada tanggal 16 agustus 1945 silam, kelompok pemuda menculik Soekarno dan istri beserta anaknya ke Rengasdengklok, dan menyembunyikannya di sebuah rumah milik warga Tionghoa, bernama Djiauw Kie Siong. Penculikan tersebut adalah usaha dari para pemuda untuk mengamankan Soekarno dari pengaruh Jepang yang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.

Dirumah itu, selain diamankan, Soekarno juga didesak oleh kaum muda untuk segera memproklamasaikan kemerdekaan Indonesia, tanpa harus menunggu kemerdekaan yang berupa hadiah dari Jepang. Pemuda menganggap kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II adalah momen yang tepat bagi Bangsa Indonesia untuk memerdekakan diri, mengingat kekuatan Jepang yang mulai melemah. Peristiwa perundingan di rumah Djiauw Kie Siong itu kemudian kita sebut dengan peristiwa Rengasdengklok. Kini, setelah setengah abad bangsa kita merdeka, jejak sejarah tersebut masih bisa dikunjungi. Bedanya, kini rumah bersejarah itu lokasinya dipindahkan, terletak sekitar 100 meter dari Monumen Kebulatan Tekad.

“Adapun letak rumah yang dulu didiami Soekarno berada didekat monumen kebulatan tekad. Pemindahan ini dilakukan karena lokasi aslinya dahulu terkena luapan lumpur ketika terjadi erosi di Sungai Citarum pada tahun 1957. Pemindahan ini dilakukan atas perintah Soekarno. Karena itu pulalah di lokasi aslinya dulu, kemudian dibangun Monumen Kebulatan Tekad,”ulas Idris, selaku perawat asset sejarah yang ada di Renmgasdengklok, kepada DIZTV kamis (15/8)

Rumah yang sebagian besar bahan bangunannya diambil dari rumah aslinya ini, hingga saat ini diurus oleh cucu Djiauw Kie Siong, dengan desain bangunan tidak jauh berbeda dengan rumah yang dulu. Yang berbeda, sekarang sebagian benda atau perabotan rumah sudah diganti dengan replikanya.

“Adapun perabotan yang asli, ditempatkan di Museum di Bandung. Tetapi di rumah ini, kita bisa menemukan benda asli diantaranya cermin, meja, foto, lukisan serta bale-bale yang terletak di depan rumah. Sedangkan, ranjang yang dulunya ditempati Soekarno, kursi diruang tengah yang menjadi tempat berunding sudah dialihkan ke Museum di Bandung,”Ucapnya.

Menurutnya, diperkirakan dengan menjelang peringatan kemerdekaan 17 Agustus 2013 besok, rumah sejarah kembali menjadi objek kunjungan para keluarga pejuang dan juga veteran dari Jakarta. Dengan menggandeng generasi muda, rombongan dari Jakarta ikut meramaikan menjelang peringatan 17 Agustus besok.

“karena setiap tahun sudah terbiasa seperti itu. Dan sudah menjadi tradisi,”ulasnya.

Salah seorang pengunjung yang juga sejarawan, Rusdi mengakui keberadaan rumah sejarah Rengasdengklok tidak bisa dipisahkan dari lahirnay kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 45. Hal itu karna sebelumnya,16 Agustus 45, Soekarno –Hatta memang berhasil didesak para pemuda untuk segera memerdekakan Indonesia tanpa menunggu lama- lama.

”Kita patut mengetahui rumah sejarah ini.Karna disinilah lahirnay kebulatan untuk memerdekakan Indonesia yang sebelum peristiwa Rengasdengklok sikap kedua tokoh tersebut terkesan belum jelas.Untuk itu, keberadaan rumah sejarah dan juga peninggaannya harus menjadi perhatian semua termasuk pemerintah Karawang dimana sejarah ini ada,”jelasnya.

Tambah dia, untuk rombongan kita sendiri ini yang ketiga kalinya.Memang sayang kelihatnnya perhatian terhadap rumah sejarah dan juga cerita lengkap peristiwa Rengasdengklok belum diketahui semua lapisan masyarat.Hal ini menjadi tantangan, terutama pemerintah Karawang dan juga Provinsi Jawa Barat untuk bagimana keberadaan rumah sejarah ini menjadi pengetahuan umum yang bisa diketahui smeua masyarkat termasuk warga Karawang.

”Kita berharap rumah sejarah dan juga cerita lengkap rumah sejarah ini menjadi edukasi yang tanggungjawab pemerintah.Hal itu untuk semua lapisan masyarkat mengetahui cerita lengkap sejarah Rengasdengklok dan juga peninggalannya,”harapnya.(*)

No comments