Pemimpin Harus Peduli Pemuda
RENGASDENGKLOK, DIZTV-Bangsa Indonesia kaya akan budaya. Secara keseluruhan
bangsa ini dikenal sebagai bangsa beradab dengan adat ketimuran yang
mengutamakan sopan santun, norma dan etika. Namun belakangan ini, segala
perkembangan teknologi telah melunturkan nilai-nilai yang penulis sebut
diatas.
Hal itu diungkapkan oleh Kepala Sekolah SDN Rengasdengklok Selatan III, Mokh Halimi,Spdi saat ditemui di ruangan kerjanya nengatakan, terlihat dari adanya perubahan gaya hidup terutama di kalangan anak-anak muda (ABG). Dari mulai cara berpakaian hingga tingkah laku, anak-anak muda lebih suka dengan segala yang berbau barat, atau yang sering kita sebut westernisasi.
"Kecanggihan teknologi membuat dunia seperti tanpa sekat ruang dan waktu. Ada positif dan negatif dari itu semua. Sayangnya, anak muda Indonesia di era digital ini tidak memanfaatkan teknologi tersebut dengan bijaksana. Dan hanya sekadar menjadi konsumtif, tidak produktif,"ungkap Mokh Halimi, kepada DIZTV, saat ditemui usai Ujian Sekolah (US), senin (2/6).
Lanjut dia, hal ini tentu menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia, karena dapat mengancam produktivitas. Yang paling miris adalah, anak muda menjadi lebih ‘autis’. "Plesetannya adalah gerakan menundukkan kepala. Mau jalan nunduk liat hp. Kongkow bareng-bareng teman semuanya pada sibuk dengan gadget masing-masing,"ternag Mokh halimi, dengan hkhas candanya.
Dikatakannya, untuk menghindari dampak negatif dari kecanggihan teknologi saat ini, wadah organisasi anak muda seperti karang taruna, organisasi kepemudaan (OKP), atau aktivitas organisasi di sekolah maupun kuliah bisa diikuti. Sedangkan untuk yang berminat di keagamaan bisa meramaikan masjid dengan kegiatan-kegiatan keagamaan. Untuk yang senang hobi, bisa membentuk komunitas hobi. "Hal itu untuk mempererat semangat kebersamaan sehingga terhimpun sebuah energi positif yang berguna bagi bangsa,"katanya.
Untuk itu, sambung dia, segala kegiatan dan pengembangan kapasitas anak-anak muda Indonesia harus mendapat dukungan dari pemerintah. "Sebentar lagi kita akan berganti kepemimpinan nasional, sehingga menjadi penting peranan anak muda Indonesia baik pemilih pemula usia 17-21 tahun maupun pemilih muda 17-29 tahun yang berkisar 50 juta pemilih untuk cerdas memilih calon presiden yang peduli anak muda,"tambahnya.
Pemimpin ke depan harus benar-benar perduli anak-anak muda. Karena mereka adalah generasi masa depan bangsa ini. Dicontohkannya dari pilisofi bung karno yang mengatakan 'Beri aku seribu orang tua, maka akan kucabut Semeru dari akarnya, tapi bawakan aku sepuluh orang pemuda, maka akan kuguncang dunia'. "Mudah mudahan dengan adanya pemimpin dari legislatif yang mewakili tiap dapil bisa menyambungkan aspirasi masyarakat dan pemuda kedepannya. Serta untuk pemimpin nasional (Preseiden) bisa peduli kepada pemuda,"harapnya.
Dia juga berharap para kaula muda jangan antipati dengan politik, karena bagaimanapun politik adalah sistem untuk mengatur hajat hidup orang banyak. "Jika yang menguasai politik adalah orang-orang jahat, maka produk kebijakannya jahat pula. Jika yang memimpin adalah orang yang tidak peduli terhadap anak muda, maka nasib generasi bangsa akan suram,"tungkasnya.(izr)
Hal itu diungkapkan oleh Kepala Sekolah SDN Rengasdengklok Selatan III, Mokh Halimi,Spdi saat ditemui di ruangan kerjanya nengatakan, terlihat dari adanya perubahan gaya hidup terutama di kalangan anak-anak muda (ABG). Dari mulai cara berpakaian hingga tingkah laku, anak-anak muda lebih suka dengan segala yang berbau barat, atau yang sering kita sebut westernisasi.
"Kecanggihan teknologi membuat dunia seperti tanpa sekat ruang dan waktu. Ada positif dan negatif dari itu semua. Sayangnya, anak muda Indonesia di era digital ini tidak memanfaatkan teknologi tersebut dengan bijaksana. Dan hanya sekadar menjadi konsumtif, tidak produktif,"ungkap Mokh Halimi, kepada DIZTV, saat ditemui usai Ujian Sekolah (US), senin (2/6).
Lanjut dia, hal ini tentu menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia, karena dapat mengancam produktivitas. Yang paling miris adalah, anak muda menjadi lebih ‘autis’. "Plesetannya adalah gerakan menundukkan kepala. Mau jalan nunduk liat hp. Kongkow bareng-bareng teman semuanya pada sibuk dengan gadget masing-masing,"ternag Mokh halimi, dengan hkhas candanya.
Dikatakannya, untuk menghindari dampak negatif dari kecanggihan teknologi saat ini, wadah organisasi anak muda seperti karang taruna, organisasi kepemudaan (OKP), atau aktivitas organisasi di sekolah maupun kuliah bisa diikuti. Sedangkan untuk yang berminat di keagamaan bisa meramaikan masjid dengan kegiatan-kegiatan keagamaan. Untuk yang senang hobi, bisa membentuk komunitas hobi. "Hal itu untuk mempererat semangat kebersamaan sehingga terhimpun sebuah energi positif yang berguna bagi bangsa,"katanya.
Untuk itu, sambung dia, segala kegiatan dan pengembangan kapasitas anak-anak muda Indonesia harus mendapat dukungan dari pemerintah. "Sebentar lagi kita akan berganti kepemimpinan nasional, sehingga menjadi penting peranan anak muda Indonesia baik pemilih pemula usia 17-21 tahun maupun pemilih muda 17-29 tahun yang berkisar 50 juta pemilih untuk cerdas memilih calon presiden yang peduli anak muda,"tambahnya.
Pemimpin ke depan harus benar-benar perduli anak-anak muda. Karena mereka adalah generasi masa depan bangsa ini. Dicontohkannya dari pilisofi bung karno yang mengatakan 'Beri aku seribu orang tua, maka akan kucabut Semeru dari akarnya, tapi bawakan aku sepuluh orang pemuda, maka akan kuguncang dunia'. "Mudah mudahan dengan adanya pemimpin dari legislatif yang mewakili tiap dapil bisa menyambungkan aspirasi masyarakat dan pemuda kedepannya. Serta untuk pemimpin nasional (Preseiden) bisa peduli kepada pemuda,"harapnya.
Dia juga berharap para kaula muda jangan antipati dengan politik, karena bagaimanapun politik adalah sistem untuk mengatur hajat hidup orang banyak. "Jika yang menguasai politik adalah orang-orang jahat, maka produk kebijakannya jahat pula. Jika yang memimpin adalah orang yang tidak peduli terhadap anak muda, maka nasib generasi bangsa akan suram,"tungkasnya.(izr)

Post a Comment